Cerita Pendek – Freetalk

kesedihan di pusara

Freetalk – By Bani Adam Setiadi

Suatu malam nan sepi dengan angin yang menggantikan pendingin ruangan, jangkrik dan jarum jam pun benyanyi bersama menemani kesibukannya lembur malam ini. Seorang gadis malang yang telah lama tak bersua dengan kekasih hatinya sedang menyelesaikan tugas pekerjaannya dengan begitu khusyu.

Sempat tersirat di hatinya untuk menyempatkan diri menghubungi kekasihnya itu. Ia hendak meminjam ponsel seluler kawannya karena operator yang digunakannya memberikan layanan freetalk atau menelepon gratis di malam hari. Hal ini sempat membuatnya mengalami konflik batin karena kebingungan antara menyelesaikan kesibukannya yang harus diselesaikan esok, atau melepas rindu kepada sang kekasih hatinya. Akhirnya, Ia pun terpaksa memendam lagi rasa rindu itu dan melanjutkan kesibukannya.

Malam semakin larut, tiada lagi terdengar hiruk pikuk manusia, yang ada hanyalah nyanyian hewan malam dan detak jarum jam dinding rumahnya. Tugasnya pun telah terselesaikan dengan baik. Karena begitu lelahnya, ia pun tertidur.

Kokok ayam pagi membangunkannya, dan ia pun bergegas menyimpan hasil kerjanya semalam. Aktivitas rutin pun ia lakukan di pagi hari hingga menjelang siang, yaitu sebagai anak perempuan pada umumnya yang membantu orang tuanya.

“Kring… Kring… Kring…” ponsel pribadinya berdering. Dilihatlah layar LCD nya, dan nampak dari nomor baru yang belum ada di buku telepon. Tidak ada firasat buruk apa pun dalam benaknya, sehingga ia pun menjawabnya.

“Apa? Tidak mungkin. Anda jangan main-main dengan kabar kematian seseorang. Ini bukan saat yang tepat untuk becanda Bung”, ia pun terkejut antara percaya dan tidak terpercaya bahwa kekasih hatinya yang telah kurang lebih dua tahun tak bertatap muka kini akan berpisah untuk selamanya.

“Ngapain saya becanda, Mba. Temen Mba jatuh dari kereta. Kami sudah menghubungi keluarganya, terus baru deh menghubungi Mba karena Cuma ada nomor Mba nih yg ada di dompetnya. HP nya rusak, Mba. Kalau nggak percaya, dateng aja ke rumahnya.”

Bagai petir di siang bolong, cermin yang tiba-tiba jatuh di hadapan kita, hujan deras yang tiba-tiba turun di tengah teriknya matahari. Keterkejutan yang sangat super sekali. Membuatnya terdiam tak percaya namun nyata. Tak dapat dibendung lagi semua kerinduan kini menjadi kesedihan yang mendalam.

Keesokan harinya ia pun mengunjungi makam kekasihnya. Ya, mungkin ini lah saat terakhir ia dapat menemui kekasihnya dan melepas segala rindu yang terpendam sekian lama. Semua kenangan indah bersamanya kini mungkin sudah turut terkubur bersama jasad kekasihnya. Semua kebaikannya kini hanyalah sejarah yang hanya dapat ia ingat dan kenang. Cinta yang telah dibangun kini hanya menjadi Lukisan indah di hatinya.

“Ya Allah, hamba merasa sedih namun sangat bahagia. Akhirnya hamba dapat melepas rindu ini di sini, meskipun ini adalah yang terakhir bagiku menemuinya di dunia yang fana ini.” Ia tersenyum lepas dalam derasnya air mata yang menetes ke pusara.

“Dia adalah anak yang shaleh, maka berikanlah tempat yang terindah di sisimu Ya Rabb. Aamiin.”

Selesai

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

  • Bascomp
  • Bani Adam Setiadi

  •   

    ©All rights reserved to baniadams

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.558 pengikut lainnya.